Keruntuhan Teori Evolusi

 





BAB 13

Pernyataan-Pernyataan Evolusionis dan Fakta

Pada bab-bab sebelumnya telah dikaji ketidakabsahan teori evolusi berdasarkan bukti-bukti fosil dan acuan biologi molekuler. Dalam bab ini, kita akan membahas beberapa fenomena dan konsep biologi yang diajukan evolusionis sebagai bukti teoretis. Topik-topik ini penting karena menunjukkan ketiadaan temuan ilmiah yang mendukung evolusi, sebaliknya justru menyingkap betapa jauh penyimpangan dan penipuan yang dilakukan evolusionis.

Variasi dan Spesies

Variasi, istilah yang digunakan dalam ilmu genetika, merujuk pada peristiwa genetis yang menyebabkan individu atau kelompok spesies tertentu memiliki karakteristik berbeda satu sama lain. Sebagai contoh, pada dasarnya semua orang di bumi membawa informasi genetis sama. Namun ada yang bermata sipit, berambut merah, berhidung mancung, atau ber-tubuh pendek, tergantung pada potensi variasi informasi genetisnya.

Evolusionis menyebut variasi dalam suatu spesies sebagai bukti kebenaran teorinya. Namun, variasi bukanlah bukti evolusi, karena variasi hanya hasil aneka kombinasi informasi genetis yang sudah ada, dan tidak menambahkan karakteristik baru pada informasi genetis.

Variasi selalu terjadi dalam batasan informasi genetis yang ada. Dalam ilmu genetika, batas-batas ini disebut "kelompok gen" (gene pool). Variasi menyebabkan semua karakteristik yang ada di dalam kelompok gen suatu spesies bisa muncul dengan beragam cara. Misalnya pada suatu spesies reptil, variasi menyebabkan kemunculan varietas yang relatif berekor panjang atau berkaki pendek, karena baik informasi tentang kaki pendek maupun panjang terdapat dalam kantung gen. Namun, variasi tidak mengubah reptil menjadi burung dengan menambahkan sayap atau bulu-bulu, atau dengan mengubah metabolisme mereka. Perubahan demikian memerlukan penambahan informasi genetis pada makhluk hidup, yang tidak mungkin terjadi dalam variasi.

Darwin tidak mengetahui fakta ini ketika merumuskan teorinya. Ia mengira tidak ada batas dalam variasi. Dalam sebuah artikel yang ditulisnya pada tahun 1844, ia menyatakan: "Banyak ahli yang menganggap bahwa ada batas dalam variasi di alam, namun saya belum menemukan satu bukti pun yang melandasi keyakinan ini".1

Dalam The Origin of Species, ia menyebutkan beragam contoh variasi sebagai bukti terpenting bagi teorinya. Misalnya, menurut Darwin, para peternak yang mengawinkan beragam varietas sapi untuk menghasilkan varietas baru yang menghasilkan susu lebih banyak, akhirnya akan mengubah ternak itu menjadi spesies berbeda. Gagasan Darwin tentang "variasi tanpa batas" jelas terungkap dalam kalimat dari The Origin of Species:

Saya tidak melihat kesulitan bagi suatu ras beruang, melalui seleksi alam, menjadi semakin terbiasa dengan lingkungan akuatis, dengan mulut semakin lebar, sampai akhirnya menjadi makhluk sebesar paus.2


APAKAH IKAN PAUS BEREVOLUSI DARI BERUANG?

Dalam buku The Origin of Species, Darwin menyatakan bahwa paus berevolusi dari beruang yang berusaha berenang! Darwin telah keliru menganggap bahwa kemungkinan variasi dalam spesies tidak terbatas. Ilmu pengetahuan abad ke-20 telah menunjukkan bahwa skenario evolusi ini hanya khayalan.

 

Darwin mengemukakan contoh yang berlebihan ini karena pemahaman yang primitif akan ilmu pengetahuan di zamannya. Pada abad ke-20, ilmu pengetahuan telah menetapkan prinsip "stabilitas genetis" (homeostasis genetis) berdasarkan hasil-hasil eksperimen yang dilakukan pada makhluk-makhluk hidup. Prinsip ini menyatakan bahwa semua usaha pengawinan untuk menghasilkan variasi-variasi baru tidak meyakinkan, dan ada batasan-batasan ketat di antara spesies-spesies makhluk hidup yang berbeda. Artinya, sangat mustahil para peternak dapat mengubah sapi menjadi spesies berbeda dengan cara mengawinkan varietas-varietasnya, seperti dinyatakan Darwin.

Norman Macbeth membantah Darwinisme dalam bukunya Darwin Retried:

Inti masalahnya adalah, kalaupun benar makhluk hidup dapat bervariasi tan-pa batas… Spesies-spesies selalu stabil. Kita semua pernah mendengar bagaimana peternak dan hortikulturis yang sudah berusaha sedemikian keras menjadi kecewa mendapati hewan atau tumbuhan yang mereka kembangkan kembali ke varietas asal. Sekalipun usaha keras dilakukan selama dua atau tiga abad, tidak mungkin dihasilkan mawar biru atau tulip hitam.3

Luther Burbank*) yang dianggap sebagai hortikulturis paling berhasil, mengungkap fakta ini saat mengatakan "ada batas-batas dalam pengembangan yang mungkin terjadi, dan batas-batas ini mengikuti suatu aturan".4 Tentang hal ini, ilmuwan Denmark, W.L. Johannsen berkomentar:

Variasi-variasi yang menjadi titik tekan Darwin dan Wallace tidak dapat dipaksakan melampaui tahap tertentu. Variabilitas seperti ini tidak me-miliki rahasia 'perubahan tanpa batas'.5

Pernyataan Evolusi tentang Resistensi Antibiotis dan Kekebalan

Evolusionis mengajukan resistensi bakteri terhadap antibiotik dan kekebalan beberapa jenis serangga terhadap DDT sebagai bukti evolusi. Mereka menyatakan ini sebagai contoh resistensi dan kekebalan yang diperoleh akibat mutasi pada makhluk hidup akibat bahan-bahan kimia tersebut.

Resistensi dan kekebalan yang muncul pada bakteri dan serangga ini bukan sifat yang diperoleh akibat mutasi. Sebagian varietas dari makhluk hidup ini memiliki karakteristik tersebut sebelum seluruh populasinya terkena antibiotik atau DDT. Meski merupakan jurnal evolusionis, Scientific American mengakui hal ini dalam edisi Maret 1998:

Banyak bakteri yang memiliki gen-gen resistensi, bahkan sebelum antibiotik komersial digunakan. Para ilmuwan tidak tahu pasti mengapa gen-gen ini berkembang dan dipertahankan.6

Tampaknya, informasi genetis yang mengandung resistensi dan sudah ada sebelum penggunaan antibiotik ini tidak dapat dijelaskan oleh evolusionis. Ini membuktikan kekeliruan teori mereka.

Fakta bahwa bakteri resisten ini sudah ada bertahun-tahun sebelum penemuan antibiotik, diungkapkan dalam Medical Tribune, sebuah terbitan ilmiah terkemuka, pada edisi 29 Desember 1998. Di situ diulas sebuah kejadian menarik: dalam sebuah penelitian tahun 1986, ditemukan beberapa mayat yang terawetkan dalam es. Mereka adalah pelaut yang sebelum-nya sakit dan meninggal ketika melakukan ekspedisi kutub pada tahun 1845. Pada mayat-mayat tersebut ditemukan jenis-jenis bakteri yang umum didapati pada abad ke-19. Ketika diuji, para peneliti terkejut karena bakteri-bakteri ini resisten terhadap beragam antibiotik modern yang baru dikembangkan pada abad ke-20.7

Adanya resistensi semacam ini pada banyak populasi bakteri sebelum penisilin ditemukan merupakan fakta yang diketahui luas dalam lingkungan medis. Karenanya, mendalilkan resistensi bakteri sebagai perkembangan evolusi adalah bentuk penipuan. Lalu, bagaimana terjadinya proses "bakteri memperoleh kekebalan"?

Resistensi Bakteri terhadap Antibiotik

Dalam satu jenis bakteri terdapat variasi yang sangat beragam. Beberapa memiliki informasi genetis untuk resisten terhadap obat-obatan, bahan kimia atau zat-zat lain. Jika sekelompok bakteri terkena obat tertentu, yang tidak resisten terhadap obat tersebut akan mati, sedangkan yang resisten akan tetap hidup dan memiliki kesempatan berkembang biak. Bakteri tidak resisten selanjutnya akan musnah dari populasi dan digantikan oleh bakteri resisten, yang lalu berkembang pesat. Akhirnya koloni bakteri yang tertinggal hanya terdiri dari individu-individu resisten terhadap antibiotik tersebut. Sejak itu pula, antibiotik tersebut menjadi tidak efektif lagi terhadap bakteri jenis ini. Hal penting yang harus diingat adalah bah-wa bakteri tersebut masih bakteri yang sama dan begitu pula spesiesnya.

Penting untuk dicatat, bertentangan dengan pernyataan evolusionis, tidak terjadi proses evolusi pada bakteri tersebut. Antibiotik tidak menyebabkan bakteri tidak resisten bermutasi dan berubah menjadi jenis bakteri resisten, dan karenanya memperoleh informasi genetis baru. Yang terjadi hanya kepunahan variasi bakteri tidak resisten pada sebuah populasi yang terdiri dari variasi bakteri resisten dan tidak resisten, yang hidup bersama sejak awal. Ini tidak menandai kemunculan spesies bakteri baru. Ini bukan "evolusi". Sebaliknya, satu variasi atau lebih menjadi punah, menyebabkan hilangnya sebagian informasi genetis; sebuah proses kebalikan dari evolusi.

Kekebalan Serangga terhadap DDT

Persoalan lain yang didistorsi evolusionis dan diajukan sebagai bukti evolusi adalah kekebalan terhadap DDT yang tampaknya "diperoleh" serangga. Kekebalan ini berkembang seperti resistensi bakteri terhadap antibiotik. Kekebalan serangga terhadap DDT sama sekali tidak dapat dikatakan "diperoleh" oleh individu-individu di dalam populasi. Beberapa serangga telah kebal terhadap DDT. Setelah DDT ditemukan, serangga yang tidak memiliki kekebalan bawaan dan terkena zat kimia ini akan punah dari populasinya. Sejalan dengan waktu, serangga kebal yang sebelumnya sedikit menjadi bertambah banyak. Akhirnya, seluruh spesies tersebut menjadi populasi dengan anggota-anggota kebal terhadap DDT. Ketika ini terjadi, DDT menjadi tidak efektif lagi terhadap spesies serangga tersebut. Untuk menyesatkan, fenomena ini biasa dirujuk sebagai "perolehan kekebalan serangga terhadap DDT".

Ahli biologi evolusionis, Francisco Ayala, mengakui fakta ini dengan mengatakan, "Varian-varian genetis yang dibutuhkan agar resisten terhadap jenis pestisida yang sangat beraneka tampaknya telah ada pada setiap anggota populasi yang terkena senyawa buatan manusia ini".8

Karena menyadari bahwa kebanyakan orang tidak berkesempatan mempelajari atau melakukan riset mikrobiologi, evolusionis membuat kebohongan terang-terangan berkaitan dengan resistensi dan kekebalan. Mereka sering mengemukakan contoh-contoh tadi sebagai bukti penting bagi evolusi. Kini sudah jelas bahwa resistensi bakteri terhadap antibiotik dan kekebalan serangga terhadap DDT tidak memberikan bukti apa pun bagi evolusi. Yang justru terungkap adalah contoh nyata penyimpangan dan kebohongan yang dilakukan evolusionis untuk membenarkan teori mereka.

Kekeliruan tentang Organ-Organ Peninggalan

Sejak lama, konsep "organ vestigial"*) atau "organ peninggalan" sering muncul dalam literatur evolusionis sebagai "bukti" evolusi. Pada akhirnya konsep ini diam-diam tidak digunakan lagi ketika terbukti tidak absah. Namun beberapa evolusionis masih meyakininya dan kadang-kadang masih ada saja yang mencoba mengajukannya sebagai bukti penting evolusi.

Gagasan "organ peninggalan" pertama kali dikemukakan seabad lalu. Menurut evolusionis, di dalam tubuh beberapa jenis makhluk hidup terdapat sejumlah organ-organ tubuh yang tidak fungsional. Organ-organ ini diwarisi dari nenek moyang mereka dan perlahan-lahan menjadi peninggalan karena tidak digunakan.

Semua asumsi ini sangat tidak ilmiah dan hanya berlandaskan pada pengetahuan yang tidak memadai. "Organ-organ tidak fungsional" ini pada kenyataannya adalah organ-organ yang "fungsinya belum diketahui". Ini ditunjukkan dengan berkurangnya organ peninggalan sedikit demi sedikit tetapi pasti dari daftar panjang evolusionis. Seorang evolusionis bernama S.R. Scadding, dalam tulisannya untuk majalah Evolutionary Theory yang berjudul "Can Vestigial Organs Constitute Evidence for Evolution?" ("Dapatkan Organ Peninggalan Menjadi Bukti Evolusi?"), menyetujui fakta ini:

Karena tidak mungkin mengidentifikasi secara pasti struktur-struktur tidak berguna, dan karena struktur argumen yang digunakan tidak absah secara keilmuan, saya menyimpulkan bahwa "organ-organ peninggalan" tidak memberikan bukti khusus bagi teori evolusi.9

Daftar organ peninggalan yang dibuat ahli anatomi Jerman R. Wiedersheim pada tahun 1895 terdiri dari sekitar 100 organ, termasuk usus buntu dan tulang ekor. Dengan kemajuan ilmu pengetahuan, ternyata semua organ dalam daftar ini diketahui berfungsi penting dalam tubuh. Misalnya, usus buntu yang semula dianggap sebagai organ peninggalan ternyata merupakan organ limfoid *) yang memerangi infeksi dalam tubuh. Fakta ini menjadi jelas pada tahun 1997: "Organ-organ dan jaringan tubuh lainnya - kelenjar timus, hati, limpa, usus buntu, sumsum tulang, sejumlah jaringan limfatis seperti amandel dan lempeng Peyer pada usus kecil - juga merupakan bagian dari sistem limfatis. Semuanya membantu tubuh memerangi infeksi."10

Ditemukan bahwa amandel, yang juga digolongkan organ peninggalan, berperan penting dalam melindungi kerongkongan dari infeksi, khususnya sampai usia dewasa. Tulang ekor pada bagian bawah tulang belakang ternyata menyokong tulang-tulang di sekitar panggul dan merupakan titik temu dari beberapa otot kecil. Tahun-tahun berikutnya diketahui bahwa kelenjar timus memicu sistem kekebalan tubuh dengan mengaktifkan sel-sel T; kelenjar pineal berperan dalam sekresi beberapa hormon penting; kelenjar gondok menunjang pertumbuhan yang baik pada bayi dan anak-anak; dan kelenjar pituitari mengendalikan banyak kelenjar-kelenjar hormon agar berfungsi dengan benar. Sebelumnya, semua organ ini dianggap sebagai "organ peninggalan". Lipatan cekung di ujung mata yang diajukan Darwin sebagai organ peninggalan ternyata berperan membersihkan dan melumasi bola mata.

 

Semua contoh organ peninggalan telah dibuktikan ketidakbenarannya. Misalnya, lipatan cekung di ujung mata yang disebut sebagai struktur peninggalan dalam buku Origins, sekarang terbukti berfungsi melumasi bola mata. Di zaman Darwin, fungsi ini tidak diketahui.

 

Ada kesalahan logika yang sangat penting dalam pernyataan evolusionis tentang organ peninggalan. Evolusionis menyatakan bahwa organ-organ peninggalan suatu individu diwarisi dari nenek moyangnya. Namun, beberapa organ yang disebut sebagai "peninggalan" tidak ditemui pada spesies hidup yang dinyatakan sebagai nenek moyang manusia! Contoh-nya, usus buntu tidak dimiliki beberapa spesies kera yang disebut sebagai nenek moyang manusia. Ahli biologi terkenal, H. Enoch, penentang teori organ peninggalan, menyatakan kesalahan logika ini sebagai berikut:

Kera memiliki usus buntu, sedangkan kerabat terdekat di bawahnya tidak; usus buntu ini muncul lagi pada hewan mamalia lain yaitu opossum. Bagaimana evolusionis dapat menjelaskan kenyataan ini?11

Singkatnya, skenario organ peninggalan yang dikemukakan evolusionis mengandung sejumlah cacat logika serius dan secara ilmiah telah terbukti keliru. Dalam tubuh manusia tidak ada organ peninggalan yang diwariskan karena manusia tidak berevolusi dari makhluk lain secara kebetulan. Manusia diciptakan dalam bentuknya seperti sekarang, lengkap dan sempurna.

Mitos Homologi

Dalam ilmu biologi, kemiripan struktural di antara spesies yang berbeda disebut "homologi". Evolusionis mencoba mengajukan kemiripan tersebut sebagai bukti evolusi.

Darwin mengira bahwa makhluk-makhluk dengan organ yang mirip (homolog) memiliki hubungan evolusi di antara mereka, dan organ-organ ini diwarisi dari nenek moyang yang sama. Menurut asumsinya, merpati dan elang memiliki sayap; karena itu merpati, elang dan bahkan semua unggas bersayap berevolusi dari nenek moyang yang sama.

Homologi merupakan argumen menyesatkan yang dikemukakan hanya berdasarkan kemiripan fisik. Sejak zaman Darwin hingga sekarang, argumen ini belum pernah dibuktikan oleh satu temuan konkret pun. Tidak pernah ditemukan satu pun fosil nenek moyang imajiner yang memiliki struktur-struktur homolog. Lagi pula, hal-hal berikut ini memperjelas bahwa homologi tidak membuktikan bahwa evolusi telah terjadi:

1. Organ-organ homolog ditemukan pula pada spesies-spesies yang sangat berbeda, yang bahkan evolusionis pun tidak dapat menunjukkan hubungan evolusi di antara spesies-spesies tersebut.

2. Kode-kode genetis beberapa makhluk yang memiliki organ-organ homolog sama sekali berbeda satu sama lain.

3. Perkembangan embriologis organ-organ homolog benar-benar berbeda pada makhluk-makhluk yang berbeda.

Mari kita lihat hal-hal ini satu per satu.

Organ-organ Serupa pada Spesies yang Berbeda

Ada sejumlah organ homolog yang sama-sama dimiliki berbagai spesies berbeda, namun evolusionis tidak mampu menunjukkan hubungan evolusi di antara mereka. Misalnya sayap. Selain pada burung, sayap terdapat pula pada hewan mamalia (seperti kelelawar), pada serangga, bahkan pada jenis reptil yang telah punah (beberapa dinosaurus). Tetapi evolusionis tidak menyatakan hubungan evolusi atau kekerabatan di antara keempat kelompok hewan ini.

Contoh mencolok lainnya adalah kemiripan yang menakjubkan pada struktur mata berbagai jenis makhluk. Misalnya, walau gurita dan manusia adalah dua spesies yang jauh berbeda, struktur dan fungsi keduanya sangat mirip. Namun evolusionis tidak menyatakan bahwa mereka mempunyai nenek moyang yang sama karena kemiripan mata. Contoh-contoh ini, dan banyak lagi lainnya, memastikan bahwa pernyataan "organ-organ homolog membuktikan spesies makhluk hidup berevolusi dari satu nenek moyang yang sama" tidak memiliki landasan ilmiah.

Konsep organ-organ homolog justru sangat mempermalukan evolusionis. Pengakuan evolusionis terkenal, Frank Salisbury, tentang kemiripan mata berbagai spesies yang sangat berbeda menegaskan kebuntuan konsep homologi:

Bahkan struktur sekompleks mata telah muncul beberapa kali; misalnya pada cumi-cumi, vertebrata dan artropoda. Menjelaskan salah satu asal usul struktur tersebut saja sudah sangat sulit, memikirkan produksi struktur tersebut berulang-ulang sesuai dengan teori sintetis modern membuat kepala saya pusing.12

Kebuntuan Genetis dan Embriologis pada Homologi

Agar konsep "homologi" evolusionis bisa diakui, organ-organ serupa (homolog) pada makhluk yang berbeda harus dikode oleh kode-kode DNA yang juga serupa (homolog). Namun kenyataannya tidak demikian. Dalam kebanyakan kasus, kode genetis mereka sangat berbeda. Justru, kode-kode genetis serupa pada berbagai makhluk sering terkait dengan organ-organ yang sama sekali berbeda.

Michael Denton, profesor biokimia Australia, dalam bukunya Evolution: A Theory in Crisis, menjelaskan kebuntuan evolusionis menafsirkan homologi dari sudut genetika: "Struktur-struktur homolog sering ditentukan oleh sistem genetis yang tidak homolog, dan konsep homologi jarang bisa dirunut ke dalam embriologi."13

Agar konsep homologi dianggap sah, perkembangan embriologis (tahap-tahap perkembangan pada telur atau rahim induk) pada spesies-spesies dengan organ-organ homolog seharusnya memiliki kecenderungan atau arah yang sama. Nyatanya, perkembangan embriologis organ-organ tersebut sangat berbeda pada setiap makhluk hidup.

Sebagai kesimpulan, dapat kita katakan bahwa riset genetis dan embriologis telah membuktikan bahwa konsep homologi yang dinyatakan Darwin sebagai "bukti evolusi makhluk-makhluk hidup dari nenek mo-yang yang sama" tidak dapat dianggap sebagai bukti sama sekali. Dalam hal ini, ilmu pengetahuan telah berkali-kali membuktikan bahwa tesis Darwin salah.

Ketidakabsahan Pernyataan Homologi Molekuler

Pengajuan homologi sebagai bukti evolusi tidak saja gagal pada tingkat organ tetapi juga pada tingkat molekuler. Evolusionis mengatakan bahwa ada kemiripan antara kode-kode DNA atau struktur-struktur protein pada spesies-spesies berbeda, dan kemiripan ini membuktikan makhluk-makhluk hidup ini telah berevolusi dari nenek moyang yang sama atau dari satu sama lain. Sebagai contoh, media evolusionis senantiasa menyatakan bahwa "ada kemiripan besar antara DNA manusia dan DNA kera". Kemiripan ini dikemukakan sebagai bukti hubungan evolusi antara manusia dan kera.

Contoh paling berlebihan dari argumen ini mengacu pada terdapatnya 46 kromosom pada manusia dan 48 pada beberapa jenis kera seperti simpanse. Evolusionis menganggap kedekatan jumlah kromosom antara spesies yang berbeda merupakan bukti hubungan evolusi. Namun, jika hal ini benar, maka manusia memiliki kerabat lebih dekat: kentang. Dibandingkan dengan kera atau simpanse, kentang memiliki jumlah kromosom lebih dekat dengan jumlah kromosom manusia, yaitu 46! Dengan kata lain, manusia dan kentang memiliki jumlah kromosom yang sama! Contoh nyata tetapi menggelikan ini menunjukkan bah-wa kemiripan DNA tidak dapat dijadikan bukti hubungan evolusi.

Di sisi lain, terdapat perbedaan molekuler yang sangat besar di antara makhluk-makhluk yang tampaknya mirip dan berkerabat. Sebagai contoh, struktur Sitokrom-C, salah satu protein penting bagi pernapasan, sangat berbeda pada makhluk-makhluk hidup dalam kelas yang sama.


Prof. Michael Denton: "Teori Evolusi adalah teori dalam krisis".

Menurut hasil riset, perbedaan antara dua spesies reptil lebih besar dibandingkan perbedaan antara burung dan ikan atau antara ikan dan mamalia. Studi lain menunjukkan bahwa perbedaan molekuler antara beberapa burung lebih besar dibandingkan perbedaan molekuler antara burung-burung tersebut dengan mamalia. Telah ditemukan pula bahwa antara bakteri-bakteri yang tampaknya sama ternyata ada perbedaan molekuler lebih besar dibandingkan perbedaan molekular antara mamalia dan amfibi atau serangga.14 Perbandingan serupa telah dilakukan pada hemoglobin, mioglobin, hormon-hormon dan gen-gen dengan kesimpulan yang sama.15

Berkenaan dengan temuan ini dan temuan terkait lainnya, Dr. Michael Denton berkomentar:

Masing-masing kelas pada tingkat molekuler adalah unik, terisolasi dan tidak dihubungkan oleh bentuk antara. Jadi, molekul-molekul, seperti halnya fosil-fosil, telah gagal menyediakan bentuk antara yang selama ini dicari oleh biologi evolusioner… Pada tingkat molekuler, tidak ada organisme "nenek moyang" atau "lebih primitif" atau "lebih maju" di-bandingkan kerabatnya... Apabila bukti molekuler ini diketahui satu abad yang lalu... gagasan evolusi organis ini mungkin tidak akan pernah diterima.16

Mitos Rekapitulasi Embriologis

Meskipun telah disingkirkan dari literatur ilmiah, beberapa terbitan evolusionis masih sering mengajukan "teori rekapitulasi" sebagai realitas ilmiah. Istilah "rekapitulasi" adalah peringkasan dari ungkapan "Ontogeni merekapitulasi filogeni" yang dikemukakan ahli biologi evolusionis, Ernst Haeckel, pada akhir abad ke-19.


Dalam banyak hal, Haeckel adalah evolusionis yang lebih bernafsu dibandingkan Darwin. Karenanya, ia tidak ragu menyimpangkan data ilmiah dan melakukan berbagai pemalsuan.

Teori yang diajukan Haeckel ini menyatakan bahwa embrio-embrio mengulangi proses evolusi yang telah dialami nenek-nenek moyangnya. Haeckel berteori bahwa selama masa perkembangan di dalam rahim ibu, embrio manusia menunjukkan karakteristik ikan, kemudian karakteristik reptil, dan akhirnya karakteristik manusia.

Tahun-tahun selanjutnya, terbukti bahwa teori ini sama sekali keliru. Yang dianggap "insang" pada tahap awal embrio ternyata adalah fase awal saluran telinga bagian tengah, kelenjar paratiroid dan kelenjar timus. Bagian embrio yang menyerupai "kantung kuning telur" ternyata adalah kantung yang menghasilkan darah bagi bayi. Bagian yang dianggap "ekor" oleh Haeckel dan pengikutnya ternyata adalah tulang punggung yang menyerupai ekor hanya karena terbentuk lebih dulu daripada kaki.

Ini adalah fakta-fakta yang telah diakui luas dalam dunia ilmiah, bahkan diterima oleh evolusionis sendiri. Salah satu pendiri neo-Darwinisme, George Gaylord Simpson, menulis:

Haeckel keliru menggunakan prinsip evolusi. Kini telah diketahui pasti bahwa ontogeni tidak mengulangi filogeni.17

Dalam sebuah artikel American Scientist dinyatakan:

Tentu saja hukum biogenetis benar-benar telah mati. Hukum ini akhirnya disingkirkan dari buku-buku pelajaran biologi pada tahun lima puluhan. Sebagai sebuah topik penelitian teoretis yang serius, hukum ini telah punah pada tahun dua puluhan…18

Aspek lain yang menarik dari "rekapitulasi" adalah Ernst Haeckel sendiri, yang membuat ilustrasi palsu untuk mendukung teorinya. Haeckel menggambarkan seolah-olah embrio ikan dan embrio manusia mirip satu sama lain. Ketika hal ini diketahui, ia hanya bisa berdalih bahwa evolusionis lain telah melakukan hal yang sama:

Setelah setuju membuat pengakuan tentang "pemalsuan" ini, saya seharusnya merasa terhukum dan hancur, kalau saja tidak terhibur dengan melihat di samping saya ada ratusan rekan terhukum dalam kerangkeng tawanan. Banyak di antara mereka yang merupakan peneliti terpercaya dan ahli biologi terhormat. Sebagian besar diagram dalam buku-buku pelajaran, risalah-risalah dan jurnal-jurnal biologi terbaik, akan menerima tuduhan "pemalsuan" dalam kadar yang sama, karena semuanya tidak pasti dan sedikit banyak telah ditambah, dikurangi dan direkayasa.19

Memang benar "ada ratusan rekan terhukum, banyak di antara mereka adalah peneliti terpercaya dan ahli biologi terhormat" yang memberikan kajian-kajian penuh dengan kesimpulan berpraduga, distorsi, dan bahkan pemalsuan. Ini terjadi karena mereka mengondisikan dirinya untuk memperjuangkan teori evolusi meski tak ada secuil bukti ilmiah pun yang mendukungnya.

Embrio Manusia Tidak Memiliki Insang

 

Setelah dianggap sebagai warisan dari nenek moyang, lipatan-lipatan pada embrio manusia kini didefinisikan kembali. Telah terbukti bahwa embrio manusia tidak merekapitulasi sejarah evolusi manusia.

 


1.L Loren C. Eiseley, The Immense Journey, Vintage Books, 1958, hlm. 186.
2. Charles Darwin, The Origin of Species: A Facsimile of the First Edition, Harvard University Press, 1964, S. 184
3. Norman Macbeth, Darwin Retried: An Appeal to Reason, Harvard Common Press, New York: 1971, S. 33
*) Hortikulturis Amerika yang telah mengembangkan banyak varietas baru buah-buahan, sayur-sayuran dan bunga, termasuk kentang Burbank dan bunga aster Shasta
4. Ýbd., S. 36
5. Loren Eiseley, The Immense Journey, Vintage Books, 1958. S. 227
6.Stuart B. Levy, "The Challenge of Antibiotic Resistance", Scientific American, Maret 1998, hlm. 35.
7. Medical Tribune, 29 Desember 1988, hlm. 1, 23..
8.Francisco J. Ayala, "The Mechanisms of Evolution", Scientific American, Vol. 239, September 1978, hlm. 64.
*) dari bahasa Latin vestigium, artinya jejak
9. S. R. Scadding, "Do 'Vestigial Organs' Provide Evidence for Evolution?", Evolutionary Theory, Vol 5, Mei 1981, hlm. 173.
*) penghasil limfa / getah bening

10. The Merck Manual of Medical Information, Home edition, New Jersey: Merck & Co., Inc. The Merck Publishing Group, Rahway, 1997.
11.H. Enoch, Creation and Evolution, New York: 1966, hlm. 18-19.
12. Frank Salisbury, "Doubts About the Modern Synthetic Theory of Evolution", American Biology Teacher, September 1971, hlm. 338.
13. Michael Denton, Evolution: A Theory in Crisis. London, Burnett Books, 1985, hlm. 145.
14. W. R. Bird, The Origin of Species Revisited, Thomas Nelson Co., Nashville: 1991, hlm. 98-99; Percival Davis, Dean Kenyon, Of Pandas and People, Haughton Publishing Co., 1990, hlm. 35-38.
15. W. R. Bird, The Origin of Species Revisited, hlm. 98-99, 199-202.
16. Michael Denton, Evolution: A Theory in Crisis. London, Burnett Books, 1985, hlm. 290-291.
17. G. G. Simpson, W. Beck, An Introduction to Biology, New York, Harcourt Brace and World, 1965, hlm. 241.
18. Keith S. Thompson, "Ontogeny and Phylogeny Recapitulated", American Scientist, Vol 76, Mei/Juni 1988, hlm. 273.
19. Francis Hitching, The Neck of the Giraffe: Where Darwin Went Wrong, New York: Ticknor and Fields 1982, hlm. 204.

 

Versi online dari buku-buku Harun Yahya yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia sedang dalam persiapan.
Untuk sementara Anda dapat mengunjungi halaman Download untuk mendownload versi teks atau pdf yang tersedia dari buku-buku tersebut.

© Harun Yahya Internasional 2004.
Hak Cipta Terpelihara. Semua materi dapat disalin, dicetak dan disebarkan dengan mencantumkan sumber situs web ini
info@harunyahya.com